Kebencian sama dengan membunuh.
Kaget? Ya. Kenapa benci sama dengan membunuh? Pembunuhan adalah perbuatan yang keji. Konsekuensi perbuatan tersebut begitu besar, karena membunuh mencabut hak dasar manusia: hak untuk hidup.
Akan tetapi, Tuhan melihat kebencian sebagai dosa yang sama beratnya dengan pembunuhan. Kata Yesus di Matius 5:21-22, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum.”
Mengapa begitu?
Kebencian Sebagai Dosa yang Berbahaya

Ini karena pembunuhan dan kebencian berakar dari satu sumber, yaitu tidak adanya kasih. Meskipun akibatnya berbeda, kedua perbuatan tersebut sama-sama menunjukkan bahwa kita menolak untuk mengasihi. Lebih parah lagi karena dengan membenci, kita bisa diam-diam ‘membunuh’ seseorang.
Caranya? Rasa benci memutus hubungan kita dengan sesama manusia. Tertulis di 1 Yohanes 3:15, “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia.” Bisakah kita dekat dengan seseorang yang kita sangat benci? Jelas tidak. Ketika kita menyimpan kebencian, kita menjauh dari kasih Allah dan tidak mampu mengasihi sesama.
Kebencian memutus hubungan kita dengan Tuhan. Jika Allah adalah kasih, dan mengasihi adalah sifat-Nya (Keluaran 20:6), bagaimana kita dekat dengan-Nya jika kita tidak mengasihi? Jika kita percaya bahwa Allah adalah kasih, mengapa kita malah membenci?
Jangan anggap enteng kebencian. Ia adalah dosa yang berbahaya.
Bertobat dari Kebencian

Jadi jelas, bahwa menyimpan kebencian terhadap orang lain adalah dosa. Jika kita membenci seseorang, apapun bentuknya – ingin orang lain celaka, senang karena orang lain menderita, atau ingin agar orang lain tersakiti – kita sama bersalahnya dengan pembunuh.
Bagaimana kita bisa bertobat dari dosa ini?
Mengaku
Ketika hati kita merasakan benci, mari segera akui. Kebencian yang disimpan kelak akan mencelakakan kita.
Mari kita belajar dari Kain dan Habel. Di Kejadian 4, Kain marah sekali karena persembahannya tidak diterima oleh Tuhan. Di ayat 6, Tuhan mencoba memperingatkan Kain, “Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.”
Akhirnya Kain membunuh Habel. Andaikan Kain mengambil waktu untuk mengakui dan berefleksi, tentulah Habel masih hidup. Inilah pelajaran bagi kita, bahwa rasa benci harus diakui dan dibereskan.
Menerima Kasih Allah
Syukurlah, kasih Allah tidak berbatas. Jika kita mengakui dosa kita dan meninggalkannya, kita pun disucikan kembali (1 Yohanes 1:9). Termasuk dosa kebencian. Ketika kita mengakui bahwa kita jatuh dalam kebencian, langkah selanjutnya adalah menerima kasih Allah yang telah mengampuni kita.
Betapa besarnya dosa-dosa kita di hadapan Allah. Namun, Ia mengampuni semuanya. Mari terima kasih yang besar tersebut, sehingga kita disucikan kembali. Menerima kasih Allah juga memudahkan kita masuk ke langkah selanjutnya, yakni mengampuni.
Mengampuni
Kebencian ibarat api di dalam hati kita. Pengampunan adalah air yang memadamkannya. Setelah menerima kasih Allah, selanjutnya kita perlu melepaskan pengampunan. Perlu diingat, mengampuni bukan berarti memaklumi perbuatan orang yang menyakiti; mengampuni adalah melepaskan kebencian yang berkuasa di hati.
Efesus 4:31-32 berkata, “Segala kepahitan, kegeraman, kebencian, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”
Jika perlu, terbukalah dengan orang yang menyakiti kita. Katakan dalam kasih bahwa kita tersakiti, lalu usahakan agar kita dengan dia berbaik kembali.
Kalahkan Benci dengan Kasih
Kebencian harus dikalahkan dengan kasih. Kita harus meniru Tuhan, dalam kasih karunia dan pengampunan.
Marilah kita memeriksa hati kita. Adakah rasa benci yang belum deal? Jika demikian, mintalah kepada Tuhan hikmat dan kasih. Dengan demikian, kita mengalahkan kebencian dan mampu hidup dalam kasih Allah yang sejati.
–
Related articles:
- Diam Tak Selalu Emas: Ketika Kita Enggan Selesaikan Konflik
- 5 Alasan Kenapa Kamu Harus Memaafkan Secepatnya
- Baca Ini! Bikin Kamu Semangat Mengampuni
- Tinggalkan Kebiasaan Marah Sebelum Terlambat
- Ketika Tuhan Marah: Apa yang Alkitab Katakan Tentang Kemarahan Tuhan?
–
Yuk, baca top artikel kami:
Muda & Gaul di Mata Tuhan: Bagaimana Caranya?
Seperti Apa Ibadah yang Sejati dan Berkenan kepada Allah?
Mazmur 91: Jika Tuhan Melindungi, Mengapa Musibah Tetap Menimpa?
Teladan dari 3 Wanita Hebat dalam Alkitab
Menjadi Orang Kristen yang Punya Integritas
–
Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), silahkan lihat lebih lanjut dalam video berikut:
Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:
Website: https://link.gkdi.org/web
Facebook: https://link.gkdi.org/facebook
Instagram: https://link.gkdi.org/instagram
Blog: https://link.gkdi.org/Blog
Youtube: https://link.gkdi.org/youtube
TikTok: https://link.gkdi.org/tiktok
Twitter: https://link.gkdi.org/twitter
LinkedIn: https://link.gkdi.org/linkedin
Threads: https://link.gkdi.org/threads
Whatsapp: https://link.gkdi.org/whatsapp
Last modified: Aug 29

