Sebenarnya, apa sih realitas itu?
Mudahnya, bisa kita sebut sebagai kenyataan. Apa yang terjadi dan apa yang ditangkap oleh indra kita. Namun, anehnya, satu kenyataan bisa berbeda buat satu sama lain.
Ada yang takut mendengar petir, ada yang ketika mendengar petir biasa saja. Ada yang tenang dan santai di tengah kemacetan, ada yang kesal karena macet.
Jadi, realitas ini apa sebenarnya, sih?
Realitas yang Berbeda-Beda

Kenyataannya, setiap orang akan menerjemahkan kenyataan itu sesuai bias dan pengalamannya.
Seperti orang yang takut mendengar petir, bisa jadi karena ia dibesarkan dalam lingkungan yang tenang dan tak banyak gejolak. Orang yang biasa saja karena petir, bisa saja karena ia sudah biasa dengan suara keras dan ledakan.
Kita semua datang dari keluarga dan latar belakang yang berbeda, sehingga wajar jika kita sering memiliki pengalaman yang berbeda pula.
Ada kisah orang-orang buta dan gajah. Ceritanya, sekelompok orang buta memegangi gajah untuk mengetahui wujud aslinya. Ada yang memegang belalai, dan berkata gajah itu panjang dan tipis; ada yang memegang kakinya, dan berkata gajah itu tebal dan besar, ada yang memegang ekornya, dan berkata gajah itu kecil.
Tak seorang pun menggambarkan gajah dengan tepat. Namun, begitulah yang sering terjadi di dunia. Tak jarang, perdebatan terjadi. Perdebatan biasanya adalah pertengkaran yang muncul karena perbedaan sikap dan sudut pandang.
Jadi, dari satu kejadian saja, bisa menimbulkan realitas yang berbeda. Yang berbahaya adalah ketika ada yang memaksakan sudut pandangnya kepada orang lain. Ini pun bisa terjadi pada orang-orang Kristen.
Penting sebagai orang Kristen kita mengetahui hal ini, apalagi ketika kita berbicara kebenaran (baik menginjil atau menegur).
Tidak Bijak Berkata-Kata?

Memahami perbedaan realitas inilah yang perlu sama-sama kita sadari. Amsal 25:7-8 berkata, “Apa matamu lihat, jangan terburu-buru kaubuat perkara pengadilan.”
Kita merasa sudah tahu kebenaran, sudah tahu apa yang baik. Lalu, kita mau agar orang-orang di sekitar kita agar mengetahui kebenaran itu. Akan tetapi, ketika kita menegur, ternyata kita terpengaruh bias dan sudut pandang yang sempit, sehingga orang tersebut tidak dapat menerima kebenaran.
Singkatnya: kita tidak bijak berkata-kata, sehingga niat baik berubah menjadi bumerang.
Mengapa kita perlu ‘memperkarakan’ orang di dekat kita, seperti kata Amsal di atas, tanpa memahami apa yang sebenarnya terjadi? Saya sendiri pun mengalaminya, mudah kesal dan marah ketika seseorang tidak sesuai ekspektasi, tanpa mau paham akar masalahnya.
Terkait hal ini, Tuhan Yesus sendiri bersabda, “Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Matius 7:5).
Firman Tuhan ini adalah ajakan bagi kita untuk memahami realitas di sekitar kita. Semua orang bertumbuh dari latar belakang yang berbeda, dan menjalani hidup dengan sudut pandang yang berbeda pula. Oleh karena itu, janganlah kita sembarang menghakimi, melabel, apalagi menuduh.
Tuhan sendiri berpesan, janganlah kita cepat menghakimi. Jangan pula kita memaksakan kehendak kita pada orang lain. Kita perlu melihat realitas dari sudut pandang mereka. Jika kita berbuat demikian, kita akan beroleh pengertian dan memahami satu sama lain dengan penuh kasih.
Tidak akan kita sembarang menuduh atau menghakimi. Kita pun akan terdorong untuk bijak dan rendah hati.
Berjalan di ‘Sepatu’ Mereka
Orang Amerika punya istilah, walking in their shoes. Harafiahnya berarti berjalan di sepatu orang lain. Maksud sebenarnya: memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.
Inilah yang perlu kita punyai sebagai orang Kristen. Tidak egois, tidak menyamaratakan apa yang kita ingini, melainkan berempati. Memandang seseorang sesuai realitas mereka.
Berikut cara-cara yang bisa kita lakukan untuk memahami orang lain:
1. Pahami seseorang secara utuh, bukan hanya dari satu kejadian.
Biasanya akan lebih mudah bagi kita membenarkan diri sendiri, dan menyalahkan orang lain. Itulah sebabnya, kita perlu ‘memaksa’ untuk melihat seseorang dengan utuh. Caranya? Dengan kenal mereka lebih dalam. Ajak ngobrol, dengarkan kisahnya. Mungkin selama ini, kita hanya melihat dari permukaan, tanpa pernah memahami mereka lebih dalam. Lewat koneksi ini, kita jadi paham motivasi, keinginan, dan hal-hal lain yang melatarbelakangi tindakan mereka.
2. Berfokus pada orang lain, bukan hanya diri sendiri.
Kecenderungan kita adalah mendahulukan diri sendiri. Sekarang, mari mencoba untuk memfokuskan diri pada orang lain. Apa yang mereka suka, apa yang mereka butuhkan. Rasul Paulus menyatakan di 1 Korintus 9:19, “Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.”
Maksud Paulus tentu saja adalah dengan memahami orang-orang, agar mudah baginya memberitakan Injil. Dengan berfokus pada apa yang orang senangi, kita akan lebih mudah untuk berhubungan dengan mereka.
Hidup Bersama dengan Perbedaan
Realitas yang berbeda adalah kesempatan kita untuk berempati kepada orang lain. Bukan tentang diri sendiri, bukan tentang apa yang kita sukai saja, tetapi apa yang penting bagi orang lain.
John Maxwell berkata, “Kecuali satu orang (Anda sendiri), seluruh dunia ini berisi orang lain.” Ketika kita menyadari bahwa kita berbagi dunia dengan orang lain, tentu tidak sulit bagi kita menghargai perbedaan.
Yuk, kasihi siapa saja, meskipun realitas atau cara mereka memandang sesuatu, berbeda dengan kita.
Related articles:
- Toleransi, Mengasihi yang Tidak Kita Sukai
- Kasih yang Sempurna: Apa Artinya, dan Bagaimana Mengalaminya?
- 4 Tanda Orang Julid, Adakah dalam Diri Kita?
- Merasa Hidup Sia-Sia? Renungkan 4 Hal Ini
- Pacaran Beda Agama: Benarkah Sekadar Cocok dan Bahagia?
–
Yuk, baca top artikel kami:
Muda & Gaul di Mata Tuhan: Bagaimana Caranya?
Seperti Apa Ibadah yang Sejati dan Berkenan kepada Allah?
Mazmur 91: Jika Tuhan Melindungi, Mengapa Musibah Tetap Menimpa?
Teladan dari 3 Wanita Hebat dalam Alkitab
Menjadi Orang Kristen yang Punya Integritas
–
Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), silahkan lihat lebih lanjut dalam video berikut:
Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:
Website: https://link.gkdi.org/web
Facebook: https://link.gkdi.org/facebook
Instagram: https://link.gkdi.org/instagram
Blog: https://link.gkdi.org/Blog
Youtube: https://link.gkdi.org/youtube
TikTok: https://link.gkdi.org/tiktok
Twitter: https://link.gkdi.org/twitter
LinkedIn: https://link.gkdi.org/linkedin
Threads: https://link.gkdi.org/threads
Whatsapp: https://link.gkdi.org/whatsapp
Last modified: Feb 15

