Berbicara tentang sikap optimis, saya teringat akan sebuah cerita tentang yang sangat berkesan bagi saya. Kisah tersebut berjudul “The Hospital Window” yang artinya Jendela Rumah Sakit.
Kisah Dua Pasien di Samping Jendela

Ada dua orang pasien berpenyakit keras yang dirawat di kamar yang sama di sebuah Rumah Sakit. Pasien pertama setiap hari duduk di samping satu-satunya jendela yang ada di kamar itu. Pasien kedua hanya bisa berbaring dan tidak dapat melihat ke luar jendela.
Keadaan membuat kedua pasien ini mempunyai hubungan yang dekat. Setiap harinya mereka saling bercerita. Pasien kedua mengungkapkan betapa irinya dia kepada pasien pertama karena dapat menikmati pemandangan di luar jendela.
Untuk menghiburnya, setiap hari pasien pertama bercerita tentang apa yang dilihatnya di luar jendela kepada pasien kedua. Pemandangan yang indah, orang-orang yang bahagia, bunga-bunga yang penuh warna. Pasien kedua menantikan cerita-cerita itu setiap harinya. Mendengarkannya membuat dia merasa hidup dan bahagia.
Hingga suatu hari, pasien pertama menghembuskan nafas terakhir dalam tidurnya. Kehilangan, pasien kedua meminta untuk dipindahkan ke samping jendela agar tetap dapat menikmati apa yang dilihat kawannya. Betapa mengejutkan, ternyata di luar jendela hanya ada sebuah dinding kosong!
Selama ini, pasien pertama tidak dapat melihat. Tetapi, dia membayangkan sebuah dunia yang penuh warna dan menginspirasi. Kebahagiaannya tidak didapat dari luar, tetapi dari sikap hatinya sendiri. Sebuah sikap seorang optimis!
Seorang Kristen yang Optimis

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. – Yeremia 29:11
Sikap optimis adalah sikap hati yang selalu berpengharapan dan berpandangan baik dalam menghadapi segala hal. Optimis atau pesimis, ini adalah cara pandang yang dapat dimiliki siapa saja. Seseorang bisa saja tidak percaya Tuhan, tetapi mempunyai sikap yang optimis dalam hidup. Mungkin moto-nya adalah “Don’t Worry, Be Happy.”
Jadi, apa yang membedakan optimisme seorang Kristen? Seorang Kristen bersikap optimis karena dia menaruh pengharapannya kepada Tuhan.
Seorang Kristen berpandangan optimistis karena kita mempunyai Tuhan yang memelihara dan mengasihi kita. Tuhan yang mengenal dan mengetahui hidup kita. Di dalam firman-Nya, Tuhan selalu memberi tahu kita bahwa ada pengharapan di dalam Dia.
Apakah Manfaat Menjadi Seorang Optimis?
1. Sebuah Energi Positif

Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: “Jangan takut, percaya saja!” – Markus 5:36
Seorang kepala rumah ibadat bernama Yairus memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan anaknya. Namun, tiba-tiba datang seseorang mengabarkan bahwa anak perempuannya telah mati. Bayangkan keadaannya saat itu. Seorang ayah yang memohonkan kesembuhan anaknya. Kabar duka itu pastilah membuat keadaan semakin riuh. Tentunya, kata-kata Yesus mengejutkan sekaligus membawa pengharapan bagi semua orang di sana.
Di tengah situasi yang kacau, kata-kata Yesus menjadi sebuah energi positif. Namun, tentu saja Dia tidak asal bicara. Yesus bersikap demikian karena Dia mengenal benar kekuatan Bapa-Nya.
Dunia sangat membutuhkan orang-orang berpandangan optimistis. Orang-orang yang memberikan energi positif akan senantiasa menjadi terang bagi dunia yang penuh kegelapan.
Saat kita menaruh kepercayaan kita kepada Tuhan, bukankah dengan sendirinya kita akan menjalani hidup dengan positif? Kita akan menjadi pribadi yang percaya dan berpengharapan. Optimisme kita dalam menghadapi hidup akan menjadi energi positif bagi dunia yang menderita.
2. Mendorong Kita dalam Menghadapi Tantangan

Dalam setiap musim kehidupan, akan selalu ada tantangan baru yang menguji iman kita.
Tantangan saya datang di tengah situasi pandemi. Usaha yang menjadi tumpuan ekonomi terkena dampak dan mengalami penurunan omzet. Seorang kerabat mengusulkan agar saya mulai memasuki pasar online.
Bagaimana reaksi pertama saya saat mendengar usulan itu?
“Wah, kalau harus membayar ongkir lagi, mana ada yang mau? Lebih murah belanja langsung, dong!”
“Siapa yang akan packing? Saya sudah tidak ada waktu lagi.”
Mendengar reaksi saya, kerabat saya merespon, “Belum apa-apa sudah pesimis. Harus optimis, dong!”
Sebuah teguran kecil yang mengingatkan akan betapa pentingnya mempunyai sikap hati yang benar. Selama kita hidup di dunia, kita akan senantiasa menghadapi kesulitan, tantangan, dan penderitaan. Namun, Tuhan tidak memberikan kepada kita roh ketakutan (2 Timotius 1:7).
Saat menghadapi hidup, takut gagal adalah sebuah perasaan yang kerap muncul. Namun, sikap hati kitalah yang akan menentukan hasilnya. Apakah ketakutan itu membuat kita diam dan tidak berani menghadapi tantangan? Ataukah kita memutuskan untuk menaruh pengharapan kita di dalam Tuhan dan menghadapi tantangan dengan optimisme?
Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut. – Mazmur 46:2
3. Bermanfaat untuk Kesehatan Tubuh Kita

Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. – Amsal 17:22
Bersikap optimis bukan berarti terbebas dari segala sakit penyakit. Tetapi, banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cara pandang yang positif dalam hidup mengurangi beberapa risiko penyakit.
Sebuah review dari 15 penelitian dengan 200.000 partisipan memperlihatkan beberapa kenyataan mengejutkan. Orang-orang berpandangan positif berkurang risiko penyakit jantungnya sebanyak 35%. Risiko kematian di usia muda turun sebanyak 14%. Seorang optimis memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi stres. Gula darah dan kolesterol pun cenderung lebih rendah. Bahkan, ada pengurangan risiko terhadap infeksi maupun kanker.
Penelitian tersebut lebih lanjut menunjukkan bahwa seorang optimis cenderung untuk memilih gaya hidup yang menguntungkan kesehatan fisik mereka. Wow, sungguh sebuah manfaat yang luar biasa, ‘kan?
Tiga Latihan Menjadi Seorang Optimis

Watak lahir, lingkungan dan pengalaman hidup berpengaruh dalam membentuk cara pandang seseorang. Tetapi kabar baiknya, cara pandang kita dapat diubah. Kita dapat berlatih untuk mempunyai bersikap optimistis dalam menghadapi hidup. Berikut adalah beberapa cara yang dapat kita lakukan:
1. Mulailah dari Latihan Beribadah

Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. – 1 Timotius 4:8
Dalam melatih optimisme, mulailah dari hubungan kita dengan Tuhan. Setiap firman yang ada di Alkitab berisikan pengharapan. Dengan semakin memfokuskan pandangan kita kepada Tuhan, kita tidak akan tertipu dengan berbagai pandangan duniawi.
Semakin kita melatih diri dalam beribadah, kita akan semakin positif dalam memandang hidup yang sekarang maupun di masa depan.
2. Melatih Hati untuk Bersyukur

Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukur dalam segala hal, sebab itu yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. – 1 Tesalonika 5:16-18
Bagaimana perasaan Anda saat melihat hal-hal baik yang telah Tuhan kerjakan dalam hidup Anda? Tentunya hati kita dipenuhi rasa syukur. Namun, seringkali kita melupakan itu dan lebih fokus kepada masalah dan kesulitan dalam hidup.
Melatih diri untuk bersyukur akan mengembalikan fokus kita kepada Tuhan. Tuliskanlah hal-hal yang Anda syukuri. Ambil keputusan untuk melakukannya setiap hari. Hal ini akan menguatkan kepercayaan kita akan kerja Tuhan di dalam hidup kita. Jangan heran jika kita akan semakin bertumbuh dalam sikap optimis.
3. Memilih Pergaulan yang Baik

Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. – 1 Korintus 15:33
Lingkungan adalah salah satu hal yang membentuk cara pandang kita. Seperti yang dikatakan firman Tuhan, pergaulan yang buruk dapat merusak kebiasaan baik kita.
Apakah artinya kita hanya boleh berteman dengan orang-orang yang baik saja? Tidak juga! Sebagai murid Yesus, kita diperintahkan untuk memberitakan Injil kepada semua orang. Namun, milikilah orang-orang yang memberikan pengaruh baik kepada Anda. Orang-orang berpandangan optimistis yang menaruh pengharapan mereka kepada Tuhan.
Kita dapat berteman dengan siapa saja, tetapi cermatlah dalam memilih orang-orang yang akan memberikan pengaruhnya kepada kita.
Menjadi seorang optimis bukan berarti kita akan selalu bahagia dan sukses. Bukan berarti kita tidak akan menemui tantangan dan kesulitan dalam hidup. Namun, seseorang yang percaya kepada Tuhan akan mempunyai cara pandang yang positif. Kita yakin bahwa Tuhan senantiasa memelihara dan mengasihi kita dalam setiap musim kehidupan. Hasilnya adalah kehidupan yang dijalani dengan sukacita. Yuk, latih diri kita untuk menjadi semakin optimis!
Referensi :
www.alltimeshortstories.com/life-the-hospital-window/
www.heartandstroke.ca/articles/how-optimism-benefits-your-health
–
Related Articles:
- Yuk, Bangkit Kembali dari Pandemi Berkepanjangan!
- Mengubah Kekhawatiran Menjadi Kedamaian. Bagaimana Caranya?
- Hati-Hati! 3 Hal ini Bukan Sumber Hidup Bahagia yang Sejati
- Tak Semangat Jalani Hari? Awali Pagi Anda Bersama Tuhan
- Pasrah pada Keadaan atau Berserah kepada Tuhan?
–
Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), silahkan lihat lebih lanjut dalam video berikut:
Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:
Website: https://link.gkdi.org/web
Facebook: https://link.gkdi.org/facebook
Instagram: https://link.gkdi.org/instagram
Blog: https://link.gkdi.org/Blog
Youtube: https://link.gkdi.org/youtube
TikTok: https://link.gkdi.org/tiktok
Twitter: https://link.gkdi.org/twitter
LinkedIn: https://link.gkdi.org/linkedin
Threads: https://link.gkdi.org/threads
Whatsapp: https://link.gkdi.org/whatsapp
Last modified: Jun 19

