Utang dan berbagai macam bentuknya terkesan menggiurkan. Kartu kredit, paylater, pinjaman, bisa membantu kita membeli berbagai macam barang. Bagi yang berusaha, berutang bisa menjadi alat untuk memulai impian kita.
Di sisi lain, berutang bisa menjadi beban. Bunga yang tinggi bisa sangat memberati orang-orang yang berutang. Atau, ada juga orang yang terlilit berbagai macam pinjaman, sehingga keuangannya bermasalah.
Jadi, bagaimana seharusnya kita memandang utang? Apa kata firman Tuhan tentang hal ini?
Apa Kata Alkitab tentang Utang?

Banyak orang beranggapan bahwa Alkitab melarang utang dalam segala bentuknya (Roma 13:8). Namun, hal tersebut merupakan suatu kesalahpahaman.
Misalnya di Amsal 22:7, “Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi.” Orang yang berutang, wajib dan terikat janji untuk membayar kepada pemberi utang.
Jika utang itu tidak dapat dilunasi, sang pemberi pinjaman berhak menyita barang milik si peminjam sebagai pelunasan. Amsal 22:27 versi Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK) bahkan berkata, “Nanti jika engkau tidak sanggup melunasinya, tempat tidurmu pun akan disita.”
Dengan demikian, sebenarnya tidak ada larangan dalam Alkitab untuk berutang. Hanya, jika berutang, pahami juga risiko dan ketentuannya.
Akibat dan Bahaya Utang

Dari ayat-ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa berutang tidak dianggap negatif di dalam firman Tuhan. Di sisi lain, kita dapat melihat bahwa:
- ada konsekuensi di mana kita wajib membayar uang yang dipinjam;
- bahwa utang yang tidak terkendali bisa menimbulkan bahaya.
Utang yang tak terkendali dapat menyebabkan stres, perpecahan dalam keluarga, dan tekanan finansial. Pernah merasa bahwa uang untuk melunasi pinjaman atau kredit seharusnya digunakan untuk hal-hal lain? Demikianlah utang yang terlalu besar bisa merusak cash flow atau arus kas kita.
Sebuah penelitian di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa 54% orang Amerika menyebutkan utang-piutang pasangan sebagai alasan untuk bercerai. Kita bisa melihat bahwa akibatnya bisa menyebar ke mana-mana, bukan hanya masalah uang.
Jadi, Alkitab memerintahkan kita untuk bijak dalam keuangan kita, termasuk soal berutang. Jika kita meminjam uang, pastikan kita mampu membayarnya.
Menyikapi Utang dengan Bijak
Jadi, bagaimana seharusnya kita menyikapi utang?
Tentukan Maksud dan Tujuan
Sebelum memutuskan untuk berutang, kita harus mempertimbangkan apa tujuan kita dan apakah kita memiliki rencana yang jelas untuk melunasinya.
Hindari utang yang bersifat konsumtif (beli ponsel baru, liburan) jika memang penghasilan Anda tidak mencukupi. Jika Anda berutang untuk memulai usaha, perhatikan skema pembayarannya, juga syarat dan ketentuannya, sehingga usaha tidak kandas di tengah jalan.
Count the cost. Perhitungkan dengan cermat bagaimana melunasi pinjaman yang ada. Lukas 14:28 berkata, “Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?” Catat semua untung rugi, pros and cons.
Bayar Tepat Waktu
Mazmur 37:21a mengatakan, “Orang fasik meminjam dan tidak membayar kembali.” Utang adalah janji, di mana kita meminjam milik seseorang dan kelak akan mengembalikannya. Tidak membayar tepat waktu sama saja dengan mengingkari janji. Hasilnya, reputasi kita pun akan rusak di mata orang.
Oleh karena itu, jika berutang, bayarlah tepat pada waktunya. Jika tidak bisa, cobalah untuk membicarakan hal ini dengan pihak pemberi pinjaman.
Mencari Nasihat
Jika Anda merasa terbebani oleh utang, carilah nasihat dari ahli keuangan atau saudara seiman yang bijaksana. Mereka mungkin dapat membantu Anda merancang strategi pelunasan, atau memberi saran untuk menghindari lebih banyak utang di masa depan.
Ingin Berutang? Hati-Hati!
Utang, dalam perspektif Alkitab, bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif. Namun, kita harus bijaksana dalam mengelolanya. Jangan sampai hidup kita terganggu atau tersandung hanya karena berutang. Tuhan menginginkan kita hidup dengan bijak, terutama tentang keuangan.
Mari pastikan bahwa dalam keuangan pun, kita tetap memuliakan Tuhan.
–
Referensi:
www.businessinsider.com/debt-delaying-marriage-causing-divorces-student-loans-mortgages-medical-auto-2022-3
www.faithinfinance.org/blog/what-does-the-bible-say-about-debt
Related articles:
- Jangan Terjebak, Sikapi Utang dengan Bijak
- Solusi Atasi Stres Akibat Masalah Finansial Keluarga
- Strategi Keuangan Minim Bujet bagi Single Parents
- It’s All about Money: Waspadai 3 Gejala Hamba Uang
- Bijak seperti Semut: Kelola Uang dengan Strategi Tepat
–
Yuk, baca top artikel kami:
Muda & Gaul di Mata Tuhan: Bagaimana Caranya?
Seperti Apa Ibadah yang Sejati dan Berkenan kepada Allah?
Mazmur 91: Jika Tuhan Melindungi, Mengapa Musibah Tetap Menimpa?
Teladan dari 3 Wanita Hebat dalam Alkitab
Menjadi Orang Kristen yang Punya Integritas
–
Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), silahkan lihat lebih lanjut dalam video berikut:
Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:
Website: https://link.gkdi.org/web
Facebook: https://link.gkdi.org/facebook
Instagram: https://link.gkdi.org/instagram
Blog: https://link.gkdi.org/Blog
Youtube: https://link.gkdi.org/youtube
TikTok: https://link.gkdi.org/tiktok
Twitter: https://link.gkdi.org/twitter
LinkedIn: https://link.gkdi.org/linkedin
Threads: https://link.gkdi.org/threads
Whatsapp: https://link.gkdi.org/whatsapp
Last modified: Sep 4

