{"id":13598,"date":"2021-12-02T13:03:19","date_gmt":"2021-12-02T13:03:19","guid":{"rendered":"https:\/\/gkdi.org\/blog\/?p=13598"},"modified":"2021-12-09T03:31:00","modified_gmt":"2021-12-09T03:31:00","slug":"teman-diskusi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/teman-diskusi\/","title":{"rendered":"Menjadi Teman Diskusi: Cara Terbaik Mendidik Remaja Anda"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/playlist?list=PLGsEXHP_PBeDvuqrnk7_qhza19p0sML1v\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-10283 aligncenter\" src=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/GKDI-playlist.png\" alt=\"Gereja gkdi lagu\" width=\"1200\" height=\"240\" srcset=\"https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/GKDI-playlist.png 1200w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/GKDI-playlist-300x60.png 300w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/GKDI-playlist-1024x205.png 1024w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/GKDI-playlist-768x154.png 768w\" sizes=\"(max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernahkan Anda berpikir memiliki <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/teman-3\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">teman<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> diskusi, tetapi tak lain adalah anak <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/dunia-remaja-2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">remaja<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> Anda sendiri? Dulu ketika anak saya masih kecil, saya kerap mendengar <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/3-nasihat-bijak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">nasehat<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, bahwa ketika anak dewasa, orang tua harus menjadi teman bagi anak mereka. Itu adalah salah satu cara parenting yang baik. Namun, tahukah Anda apa alasannya?\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Mengapa Perlu Menjadi Teman Diskusi Anak?<\/b><\/h2>\n<h3><b>1. Sadar bahwa Anak Anda Tidak Lagi Anak-Anak<\/b><\/h3>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-13615 aligncenter\" src=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-1-ff-min.jpg\" alt=\"Diskusi-gereja-gkdi 1\" width=\"1000\" height=\"667\" srcset=\"https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-1-ff-min.jpg 1000w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-1-ff-min-300x200.jpg 300w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-1-ff-min-768x512.jpg 768w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-1-ff-min-696x464.jpg 696w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-1-ff-min-630x420.jpg 630w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/taat-itu-sederhana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">anak<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> masih kecil, <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/orang-tua-tunggal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">orang tua<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> cenderung mengontrol anak, seperti kapan anak makan, istirahat, belajar, dan bermain. Orang tua <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/sukses\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">memimpin<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, sedangkan anak mengikuti instruksi yang diberikan. Bahkan, orang tua juga memutuskan banyak hal tentang diri anak, seperti gaya berpakaian, model rambut, dan hal lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak-anak juga tidak boleh pergi sendirian. Mungkin juga, teman bermain, orang tua yang pilihkan. Jika orang tua yang terlalu protektif, mungkin anak mereka juga dilarang bermain dengan anak-anak lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ketika anak beranjak <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/menjadi-sahabat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">remaja<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, orang tua harus menyadari bahwa anak mereka sudah bukan anak-anak lagi. Terima atau tidak, suka ataupun tidak suka, Anda harus mengubah cara Anda memperlakukan anak. Anda harus mulai pelan-pelan mengurangi kendalinya atas hidup anak. Dan mulai mengarahkan mereka untuk bisa mengatur hidupnya sendiri dan membuat keputusan sendiri, seperti layaknya orang dewasa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/hubungan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">Hubungan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang tadinya lebih bersifat satu arah dari orang tua kepada anak saja, kini pun bergeser menjadi dua arah. Seiring dengan bertambahnya usia dan <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/mengukur-kedewasaan-rohani\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">kedewasaan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, seorang akan bisa mulai menjadi teman, bahkan teman diskusi bagi orang tua. Ketika seorang anak beranjak dewasa, mulai perlakukan dia sebagai orang dewasa juga.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. <\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u2013 <\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">1 Korintus 13:11\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<h3><b>2. Anak-Anak Beranjak Dewasa, Orang Tua pun harus Bertumbuh<\/b><\/h3>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-13620 aligncenter\" src=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-2-ff-min.jpg\" alt=\"Diskusi-gereja-gkdi 2\" width=\"1000\" height=\"667\" srcset=\"https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-2-ff-min.jpg 1000w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-2-ff-min-300x200.jpg 300w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-2-ff-min-768x512.jpg 768w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-2-ff-min-696x464.jpg 696w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-2-ff-min-630x420.jpg 630w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!\u00a0 <\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u2013 <\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">1 Korintus 14:20<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak-anak beranjak dewasa. <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/dosa-orang-tua\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">Orang tua<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> pun harus menyesuaikan diri dengan cara mendidik dan edukasi yang paling pas dengan mereka. Orang tua tidak bisa mendidik dengan cara satu arah apalagi dengan gaya otoriter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika Anda dapat memposisikan diri sebagai teman, tidak susah untuk masuk ke <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/rasa-damai\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">dunia<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> mereka. Hasilnya, Anda dapat menjalin hubungan yang baik dengan anak. Bahkan, anak Anda dapat dengan leluasa <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/terbuka\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">terbuka<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, nyaman, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">secure<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan mungkin Anda akan menjadi tempat curhat pertama mereka yang mereka cari ketika mereka ada <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/gunung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">masalah<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Bagaimana Cara Orang Tua menjadi Teman Diskusi Anak?<\/b><\/h2>\n<h3><b>1. Menjadi Pendengar yang Baik<\/b><\/h3>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-13619 aligncenter\" src=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-3-ff-min.jpg\" alt=\"Diskusi-gereja-gkdi 3\" width=\"1000\" height=\"667\" srcset=\"https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-3-ff-min.jpg 1000w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-3-ff-min-300x200.jpg 300w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-3-ff-min-768x512.jpg 768w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-3-ff-min-696x464.jpg 696w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-3-ff-min-630x420.jpg 630w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;\u00a0 <\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u2013 <\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">Yakobus 1:19<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang tua, acapkali kita merasa lebih superior daripada anak. Merasa lebih banyak tahu, lebih banyak pengalaman, dan lebih mengenal dunia. Akibatnya, tanpa sadar orang tua, alih-alih menjadi pendengar yang baik, malah menjadi penasehat. Anak belum bicara apa-apa, orang tua sudah \u201cngoceh\u201d, memberi solusi, penilaian, menarik kesimpulan, bahkan <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/inspirasi-suami\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">menghakimi<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> anak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan, jika kita memiliki teman yang seperti ini. Apakah Anda akan merasa nyaman dengan teman yang seperti ini? Tentunya, kita akan merasa tidak nyaman. Nah, begitu juga dengan anak Anda. Jika Anda bersikap demikian, tentu anak Anda pun tidak akan merasa <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/kristen-zona-nyaman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">nyaman<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika ini yang Anda lakukan, mungkin secara perlahan anak remaja Anda akan menjauh atau menjaga jarak dari Anda. Atau bisa jadi, dia menjadi orang yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">people pleaser<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau bermuka dua. Mereka hanya bersikap baik atau jaga<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> image <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">di hadapan Anda, hanya supaya tidak dimarahi atau dinasehati Anda. Mungkin kelihatannya anak tidak membantah dan menurut, tapi jauh di lubuk hatinya anak banyak <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/kecewa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">kecewa<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan sikap orang tua yang tidak memberi telinga untuk mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika ingin menjadi teman diskusi anak, orang tua tidak boleh <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/egois\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">egois<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Dengarkan anak Anda, cerita-cerita mereka, entah itu baik atau buruk, penting maupun kurang penting. Jangan hanya tertarik untuk memberi nasehat, menegur, mengkoreksi, dan memberi ekspektasi saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat Anda telah menjadi teman baik anak Anda, Anda pun akan menuai hasilnya. Anda mungkin menjadi orang yang paling update tentang kehidupan anak Anda. Anda akan tahu apa yang dia rasakan, kemana mereka pergi, apa masalah yang sedang mereka hadapi, dan lain-lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<h3><b>2. Sediakan Waktu<\/b><\/h3>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-13618 aligncenter\" src=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-4-ff-min.jpg\" alt=\"Diskusi-gereja-gkdi 4\" width=\"1000\" height=\"667\" srcset=\"https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-4-ff-min.jpg 1000w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-4-ff-min-300x200.jpg 300w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-4-ff-min-768x512.jpg 768w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-4-ff-min-696x464.jpg 696w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-4-ff-min-630x420.jpg 630w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/bijak-dengan-waktu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu cepat berlalu<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Dalam sekejap mata, tiba-tiba anak-anak kita telah dewasa. Dan jika kita tidak memberikan waktu, kita bisa kehilangan momen-momen bersama, ketika mereka masih kanak-kanak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk itu jangan sia-siakan waktu. Jangan hanya sibuk dengan <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/suka-menunda-pekerjaan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">pekerjaan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, karier, atau bisnis Anda. Tidak ada hubungan yang terbentuk tanpa Anda menginvestasikan waktu Anda di dalamnya. Kalau Anda ingin menjadi teman diskusi anak, sisihkan waktu khusus bersama anak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.\u00a0 <\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u2013<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Efesus 5:16\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu yang Anda berikan tidak akan pernah sia-sia. Meskipun mungkin saat ini hubungan Anda dan anak masih belum baik, tetap berikan waktu untuk mereka. Bukan tidak mungkin, waktu inilah juga yang akan menjadi perekat hubungan antara Anda sebagai orang tua dengan anak. Percayalah, waktu yang Anda berikan akan menjadi kenangan yang indah bagi mereka ketika mereka dewasa kelak.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>Quality Time bersama Anak<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, dalam perjalanan untuk menjadi teman diskusi anak, ada proses yang Anda perlu lakukan. Kita tahu, sebuah hubungan yang baik tidak terbentuk dalam semalam atau semudah membalikkan telapak tangan. Jadi, hal-hal apa saja yang dapat Anda lakukan ketika sedang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">quality time<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bersama anak?\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dengarkan cerita anak tentang apapun, seperti teman sekolahnya, kegiatan di sekolah, cita-citanya, impian, dan harapan anak.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tanyakan anak pertanyaan yang tepat. Jangan cuma bertanya hal-hal yang jawabannya hanya, \u201cya\u201d dan \u201ctidak\u201d atau jawabannya singkat. Daripada bertanya, \u201cTadi makan apa?\u201d, lebih baik tanyakan, \u201cTadi jam makan siang, kamu ngapain aja?\u201d Dengan begitu, Anda akan mendapat jawaban yang lebih banyak.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Gunakan waktu tersebut untuk mengajarkan anak pola pikir yang benar. Latih cara berpikir mereka, bukan hanya menetapkan aturan. Misalnya, anak mau pergi bersama teman-teman. Ajak anak berpikir, \u201cKegiatannya apa saja? Apakah tidak bahaya pergi sampai jam segitu? Ini masih pandemik lho.\u201d Bukan hanya, \u201cTidak boleh pergi! Pandemi gini, tidak boleh kumpul-kumpul.\u201d<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ajak anak <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/6-manfaat-berdoa-bersama-orang-lain-bagian-1\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">berdoa bersama<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Misalnya, ketika anak sedang bergumul memilih jurusan untuk mata kuliahnya kelak, Anda dapat mengajaknya doa bersama.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Makan malam berdua. Sembari makan malam, ceritakan rahasia yang tak pernah diceritakan kepada siapapun, seperti kebodohan-kebodohan pada zaman remaja. Anda tidak perlu jaga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">image<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, sehingga anak pun merasa bahwa Anda, orang tua, juga bukan sosok yang sempurna tanpa cacat cela.\u00a0 Hal ini penting supaya anak pun juga terpicu untuk lebih <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/kejujuran-si-pahit-yang-berbuah-manis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">jujur<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, terbuka, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">real<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> secure<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sehingga ia pun tidak sungkan berbagi rahasia kecilnya kepada Anda. Anda juga tidak perlu ragu untuk membocorkan rahasia kecil ketika Anda remaja dulu<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Lakukan hal-hal seru bersama (fun time). Misalnya, olahraga bersama, karaoke, nonton, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">travelling<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan lain-lain.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h3><b>3. Jangan Sakiti Hati Anak, Tetapi Didiklah Mereka<\/b><\/h3>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-13617 aligncenter\" src=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-5-ff-min.jpg\" alt=\"Diskusi-gereja-gkdi 5\" width=\"1000\" height=\"667\" srcset=\"https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-5-ff-min.jpg 1000w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-5-ff-min-300x200.jpg 300w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-5-ff-min-768x512.jpg 768w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-5-ff-min-696x464.jpg 696w, https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/diskusi-5-ff-min-630x420.jpg 630w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. <\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u2013 <\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">Efesus 6:4<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi teman diskusi bagi anak remaja bukan berarti Anda menjadi orang tua yang kompromi. Kompromi dalam konteks ini maksudnya adalah membiarkan anak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip firman Tuhan dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apapun keinginan anak, <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/menggali-firman-tuhan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">firman Tuhan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> haruslah menjadi standar yang tidak dapat ditawar. Namun, cara kita menyampaikan <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/kebenaran\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">kebenaran itu juga harus penuh kasih<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, agar anak tidak sakit hati atau merasa dibebani dengan begitu banyak aturan. Aturan pertamanya adalah, jangan sakiti hati anak. Dengan begitu, kita bisa mendidik anak di dalam ajaran Tuhan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangankan anak remaja Anda. Jika Anda sudah terlanjur disakiti oleh seseorang yang niatnya menolong dan membantu Anda, kira-kira, apakah ajaran yang disampaikan akan mengena di hati Anda? Kemungkinan besar, Anda akan menolak atau sudah mem-<\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/mental-block\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">block<\/span><\/i><\/a> <span style=\"font-weight: 400;\">duluan sebelum orang tersebut berbicara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demikian juga anak remaja Anda. Jangan lekas-lekas menetapkan aturan mana yang boleh dan tidak boleh secara mutlak. Tetapi ajarkan dan didik mereka cara pikir atau sudut pandang yang sesuai dengan firman Tuhan. Dan pada akhirnya, biarkan mereka sendiri punya <\/span><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/hikmat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">hikmat<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk menentukan, mana yang baik dan yang benar, apa yang diperbolehkan atau tidak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat anak Anda beranjak remaja atau dewasa, Anda tidak bisa lagi menggunakan cara mendidik seperti pada saat mereka masih kecil. Cara terbaik untuk mendidik mereka adalah dengan menjadi teman dan teman diskusi mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan menjadi teman diskusi, anak tidak lagi merasa orang tua membosankan, menyebalkan, kaku dan tak asyik. Jika sudah menjadi teman, tentu mereka tidak akan sungkan berbagi cerita dengan Anda.\u00a0 Begitu pula dengan Anda. Tidak susah untuk mendidik atau mengajarkan mereka hal-hal yang penting dalam hidup. Mari kita menjadi orang tua, sekaligus teman dan sahabat yang baik bagi anak remaja kita! Amin.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Aku diajari ayahku, katanya kepadaku: &#8220;Biarlah hatimu memegang perkataanku; berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup. <\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u2013 <\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">Amsal 4:4<\/span><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h5><b>&#8211;\u00a0<\/b><\/h5>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Related Articles:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><a class=\"waffle-rich-text-link\" data-sheets-formula-bar-text-link=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/broken-home\/\" data-sheets-formula-bar-text-style=\"font-size:13px;color:#1155cc;font-weight:normal;text-decoration:underline;font-family:'docs-Calibri';font-style:normal;text-decoration-skip-ink:none;\">Tegar Hadapi Broken Home bagi Remaja Kristen dengan 3 Tips Berikut<\/a><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><a class=\"waffle-rich-text-link\" data-sheets-formula-bar-text-link=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/remaja\/\" data-sheets-formula-bar-text-style=\"font-size:13px;color:#1155cc;font-weight:normal;text-decoration:underline;font-family:'docs-Calibri';font-style:normal;text-decoration-skip-ink:none;\">Metode Bijak Mengajar Anak Remaja agar Takut akan Tuhan<\/a><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><a class=\"waffle-rich-text-link\" data-sheets-formula-bar-text-link=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/mengasihi-orang-tua\/\" data-sheets-formula-bar-text-style=\"font-size:13px;color:#1155cc;font-weight:normal;text-decoration:underline;font-family:'docs-Calibri';font-style:normal;text-decoration-skip-ink:none;\">Bagaimana Mengasihi Orang Tua yang Telah Lanjut Usia?<\/a><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><a class=\"waffle-rich-text-link\" data-sheets-formula-bar-text-link=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/momster\/\" data-sheets-formula-bar-text-style=\"font-size:15px;color:#1155cc;font-weight:normal;text-decoration:underline;font-family:'docs-Calibri';font-style:normal;text-decoration-skip-ink:none;\">From Momster to Calm Mom<\/a><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><a class=\"waffle-rich-text-link\" data-sheets-formula-bar-text-link=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/keluarga\/\" data-sheets-formula-bar-text-style=\"font-size:15px;color:#4192d9;font-weight:normal;text-decoration:underline;font-family:'Arial';font-style:normal;text-decoration-skip-ink:none;\">Cara Efektif Membangun Keluarga yang Kompak dan Solid<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<h5><b>&#8211;<\/b><\/h5>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><div class=\"a-single a-11\"><a href=\"https:\/\/gkdi.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><b><i>Gereja <\/i><\/b><\/a> GKDI terdapat di<a href=\"https:\/\/www.gkdi.org\/#jemaat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> <b>41 kota<\/b><\/a> di Indonesia. <br\/>\r\nJika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), silahkan lihat lebih lanjut dalam video berikut: <br\/><br\/>\r\n\r\n<iframe width=\"560\" height=\"315\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/7s9g-oQWqM0\" title=\"YouTube video player\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe> <br\/><br\/>\r\n\r\n<strong>\r\n<input type=\"button\" style=\"  text-align: center; text-decoration: none; display: inline-block; width: 100%; height: 50px; background: orange;\r\n    margin-bottom: 16px;\" onclick=\"location.href='https:\/\/gkdi.org\/page\/biblestudy';\" value=\">> Click untuk mengikuti Bible Study <<\" \/>\r\n<\/strong>\r\n<br\/>\r\nDan, temukan lebih banyak content menarik &amp; menginspirasi melalui sosial media kami: \r\n<br\/>\r\nWebsite: <a href=\" https:\/\/link.gkdi.org\/web\"> https:\/\/link.gkdi.org\/web <br\/>\r\n<\/a>Facebook: <a href=\"https:\/\/link.gkdi.org\/facebook\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/link.gkdi.org\/facebook <br\/>\r\n<\/a>Instagram: <a href=\"https:\/\/link.gkdi.org\/instagram\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/link.gkdi.org\/instagram <br\/>\r\n<\/a>Blog: <a href=\"https:\/\/link.gkdi.org\/Blog\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/link.gkdi.org\/Blog <br\/>\r\n<\/a>Youtube: <a href=\"https:\/\/link.gkdi.org\/youtube\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/link.gkdi.org\/youtube <br\/>\r\n<\/a>TikTok: <a href=\"https:\/\/link.gkdi.org\/tiktok \" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/link.gkdi.org\/tiktok <br\/>\r\n<\/a>Twitter: <a href=\"https:\/\/link.gkdi.org\/twitter\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/link.gkdi.org\/twitter <br\/>\r\n<\/a>LinkedIn: <a href=\"https:\/\/link.gkdi.org\/linkedin\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/link.gkdi.org\/linkedin <br\/>\r\n<\/a>Threads: <a href=\"https:\/\/link.gkdi.org\/threads\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/link.gkdi.org\/threads <br\/>\r\n<\/a>Whatsapp: <a href=\"https:\/\/link.gkdi.org\/whatsapp\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/link.gkdi.org\/whatsapp <\/a> <br\/><br\/><\/div><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<div class=\"tmnf_excerpt\"><p>Pernahkan Anda berpikir memiliki teman diskusi, tetapi tak lain adalah anak remaja Anda sendiri? Dulu ketika anak saya masih kecil, saya kerap mendengar nasehat, bahwa ketika anak dewasa, orang tua harus menjadi teman bagi anak mereka. Itu adalah salah satu cara parenting yang baik. Namun, tahukah Anda apa alasannya?\u00a0 Mengapa Perlu Menjadi Teman Diskusi Anak? &hellip;<\/p>\n<\/div>","protected":false},"author":18,"featured_media":13616,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_ef_editorial_meta_date_first-draft-date":"","_ef_editorial_meta_paragraph_assignment":"","_ef_editorial_meta_checkbox_needs-photo":"","_ef_editorial_meta_number_word-count":"","footnotes":""},"categories":[99,198,209,199],"tags":[],"class_list":["post-13598","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-devotionals","category-biblical-talk","category-parenting","category-relationship"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13598","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/18"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13598"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13598\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13616"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13598"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13598"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/new.gkdi.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13598"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}