Dalam kisah Natal, ada sejumlah tokoh yang menjadi fokus utama kita, yaitu bayi Yesus, Maria, Yusuf, dan para malaikat. Namun, ada dua tokoh lain yang juga tak luput dari perhatian, yaitu para Majus dari timur dan Raja Herodes, yang melakukan serangkaian tindakan untuk mencari bayi Yesus.
Jika kita renungkan lebih dalam, ada dua pelajaran yang dapat kita petik dari para Majus dan Herodes. Kita akan kupas pelajaran pertamanya dalam artikel ini, serta pelajaran keduanya di sini.
Apa Motivasi Kita saat Mencari Tuhan?

Ada sejumlah gambaran umum yang kita miliki tentang orang-orang Majus dan Herodes. Mereka dua sosok yang digambarkan secara bertolak belakang. Yang baik dan yang jahat. Mengetahui kebenaran dan yang menolak kebenaran. Yang menaati kehendak Tuhan dan yang menentang-Nya. Dan, inilah faktor-faktor yang membuat penggambaran mereka begitu berbeda:
Orang Majus:

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. – Matius 2:1-3
Siapakah orang-orang Majus dan dari manakah mereka? Sejumlah ahli menduga mereka berasal dari dua tempat: India dan Media-Persia. Mereka adalah orang-orang Midian, keturunan Abraham dari Ketura (Kejadian 25:1-6) yang tinggal di Persia. Ada pula yang berspekulasi bahwa mereka datang dari Kerajaan Syeba atau Kekaisaran Parthia.
Kata “majus” adalah latininasi dari magos, yang berasal dari kata magupati. Ini merupakan gelar para imam agama Persia kuno, yang di masa kini kita sebut astrolog. Saat itu, astronomi dan astrologi merupakan bagian dari sains yang berjalan beriringan. Dalam bahasa Inggris, orang Majus disebut magi atau “three wise men.” Mereka penasihat yang dihormati karena banyaknya pengetahuan mereka tentang sains, pertanian, dan sihir. Diduga, mereka sangat kaya dan dihargai masyarakat.
Ketika para Majus melihat kemunculan sebuah bintang baru di langit—entah komet, supernova, atau sesuatu yang supernatural—mereka tahu itu merupakan petunjuk kelahiran seorang raja di Israel. Barangkali mereka mengetahui nubuat seorang Juru Selamat Yahudi, atau Mesias, dari orang-orang Israel yang dibuang ke Babel beberapa ratus tahun sebelumnya.
Sekarang, bayangkan perjalanan yang harus mereka tempuh untuk menemui bayi Yesus. Jarak Persia ke Israel diperkirakan sekitar 450-500 kilometer. Sepanjang itulah mereka berkendara dengan unta atau kuda, tersengat panas matahari siang dan dinginnya gurun di malam hari. Belum lagi, ada ancaman penyamun yang mengintai. Ongkos yang mereka keluarkan juga pastilah tidak sedikit.
Namun, semua mereka lakukan untuk memberikan penghormatan kepada bayi Yesus. Bayi yang bahkan tidak mereka kenal. Mengapa? Karena, mereka percaya Yesus akan menjadi Raja segala raja dan Juru Selamat manusia.
Secara kasatmata, kita mungkin kelihatan sedang mencari Tuhan. Kita tak pernah absen ke gereja; kita telah mengorbankan uang, waktu, dan tenaga untuk pelayanan. Namun, apa atau siapakah yang sebenarnya kita cari melalui semua hal itu? Apakah Tuhan menjadi pusat pencarian kita? Ataukah kita punya motivasi yang lain?
Mari kita lihat tokoh yang satu lagi.
Herodes:

Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.
Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.”
Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak.
– Matius 2:3-7
Dari ayat di atas, kita tahu Herodes juga mencari Yesus dengan sungguh-sungguh. Ia kumpulkan semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, bahkan memanggil orang-orang Majus itu dan menanyai mereka dengan teliti—barangkali sampai berjam-jam. Ya, Herodes mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang bayi Yesus!
Namun, berbeda dengan orang-orang Majus, motivasi pencarian Herodes adalah untuk melindungi kedudukan dan kekuasaannya. Yang ia pikirkan hanyalah kepentingan, keamanan, dan kenyamanan pribadi. Bahkan, ia melakukan extra mile dengan membunuh anak-anak di Betlehem untuk mencegah bayi kecil ini berkuasa kelak (Matius 2:16-18).
Mungkin kita akan sulit merefleksikan sosok Herodes dengan diri kita saat ini. Memangnya persamaan apa yang kita miliki dengan raja kejam itu? Namun, jika direnungkan, sebenarnya kita bisa becermin lewat Herodes tentang motivasi kita yang sesungguhnya saat mencari Tuhan.
.
Apakah kita mencari Tuhan untuk meraih kebahagiaan pribadi? Demi kedudukan, kekayaan, dan kesuksesan? Karena kita ingin lebih berhasil dalam pekerjaan, hubungan, keuangan? Memang, tak ada yang salah dengan hal-hal di atas. Namun, apakah Tuhan menjadi fokus yang paling utama dalam hati kita?
Menjelang hari raya Natal, marilah kita selidiki hati kita: sudahkah motivasi kita dalam mencari Tuhan setulus orang-orang Majus? Atau, jangan-jangan kita seperti Herodes, yang memanfaatkan Tuhan untuk kepentingan pribadi kita?
Lalu, apa pelajaran berikutnya yang bisa kita dapatkan dari kisah mereka? Yuk, baca Mencari Bayi Yesus di Abad Modern: Saya Orang Majus atau Raja Herodes? (Bagian 2).
Referensi:
Adi S, Lukas. 2012. Smart Book Of Christianity. Yogyakarta: Penerbit Andi.
www.biblestudy.org/basicart/who-are-the-magi.html
www.whychristmas.com/story/wisemen.shtml
www.crosswalk.com/special-coverage/christmas-and-advent/gold-frankincense-and-myrrh.html
www.crosswalk.com/special-coverage/christmas-and-advent/5-common-myths-about-the-three-wise-men-story.html
–
Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official
Artikel terkait: Hidupku Bukan Beban: Cara Jalani Situasi yang Tak Kita Suka
Video inspirasi:
Last modified: Nov 18
