
Kebanyakan orang suka pada pribadi atau sesuatu yang rapi. Itulah sebabnya sejak kecil anak-anak dilatih untuk menyimpan barang atau mainan mereka pada tempatnya. Di sekolah, para siswa diajari cara berpakaian yang baik, menulis dengan rapi, serta melakukan piket merapikan ruang kelas. Bagi orang dewasa, penampilan rapi merupakan salah satu faktor penting dalam etika berbisnis dan perekrutan karyawan.
Masalahnya, tidak semua orang terbiasa dengan kerapian. Entah karena malas, sibuk, atau tidak tahu bagaimana caranya. Secara psikologis, ada orang yang lebih produktif di lingkungan kerja yang “berantakan,” karena begitulah cara mereka memproses informasi, mencari inspirasi, dan berkreasi.
Namun, secara umum, kekacauan atau ketidakrapian mempengaruhi kerja otak kita. Suatu riset terhadap 32 keluarga yang rumahnya berantakan mengalami kenaikan hormon kortisol di sore hari, sebagai akibat dari rumah yang berantakan. Hal ini memicu depresi, mempengaruhi kemampuan otak kita untuk belajar, meningkatkan daya ingat, serta kemampuan menghadapi stress.
Tampil rapi memang membutuhkan usaha ekstra. Namun, rapi adalah kebiasaan yang akan memudahkan kita dalam banyak hal, mulai dari kehidupan sehari-hari hingga kehidupan profesional. Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk menjadi pribadi yang rapi?
Rapi, Membantu Sesama Melihat Tuhan Lewat Diri Kita

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi rapi adalah: baik, teratur, bersih, apik, tertib, serba beres dan menyenangkan, siap sedia, siaga, sebagaimana mestinya, dan tidak asal saja. Ternyata kerapian bukan hanya soal penampilan yang bersih atau necis saja. Rapi juga berarti cara hidup yang teratur dan tertib, serta cara melakukan pekerjaan yang menghasilkan kualitas terbaik, alias tidak asal-asalan.
Kebiasaan rapi perlu dimulai dari pola pikir, bahwa rapi itu indah dan menyenangkan. Kebanyakan orang akan memastikan apakah penampilan mereka sudah bersih dan rapi saat akan ke luar rumah. Akan tetapi, saat berada di rumah pun, sebaiknya kita tetap menjaga kebersihan dan kerapian. Kita tidak hanya rapi semata-mata karena akan dilihat orang saat bepergian atau menerima tamu.
Walaupun di dinding rumah Anda terpampang ilustrasi ayat Alkitab, ketika melihat kondisi hunian Anda yang kotor dan berantakan, orang tidak akan bisa melihat kemuliaan Tuhan. Tak perlu punya rumah semegah istana Raja Salomo, rumah sederhana pun kalau rapi dan bersih, dapat membuat orang nyaman dan memuliakan Tuhan. Ratu Syeba pun memuji Tuhan saat melihat bagaimana cara Salomo mengatur rumahnya.
Ketika ratu negeri Syeba melihat segala hikmat Salomo dan rumah yang telah didirikannya, makanan di mejanya, cara duduk pegawai-pegawainya, cara pelayan-pelayannya melayani dan berpakaian, minumannya dan korban bakaran yang biasa dipersembahkannya di rumah TUHAN, maka tercenganglah ratu itu.
“Terpujilah TUHAN, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan Israel!”
– 1 Raja-raja 10:4-5,9a
Dengan hikmat yang diberikan Tuhan, tentu tidak sulit bagi Raja Salomo untuk mengatur penatalayanan (stewardship) di istananya. Namun, bukan berarti kita tidak bisa melakukannya juga. Dengan kemauan membangun kebiasaan baik, kita pun dapat membenahi diri dan rumah kita. Bukankah ada pepatah “Rumahku, istanaku?” Jadi, biarlah orang lain bisa melihat Tuhan melalui diri dan rumah kita.
Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk melatih kerapian:
1. Singkirkan Barang yang Tidak Perlu

Aku melalui ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi. Lihatlah, semua itu ditumbuhi onak, tanahnya tertutup dengan jeruju, dan temboknya sudah roboh. – Amsal 24:30-31
Seperti ladang seorang pemalas yang tertutup jeruju (semacam tumbuhan bakau) karena jarang disiangi, demikianlah rumah orang yang tidak rapi. Ia tidak tertib dalam meletakkan barang, suka membeli dan menumpuk barang, juga merasa sayang membuang atau memberikan barang kepada orang lain. Akibatnya, setiap ruang kosong di rumahnya disesaki barang-barang yang sebenarnya tak begitu ia perlukan.
Cobalah periksa lemari pakaian, rak buku, dapur, gudang, dan tempat-tempat penyimpanan lainnya di rumah Anda. Apakah ada barang yang rusak, atau masih bagus tetapi sudah lama tidak dipakai? Mungkin Anda pernah bermimpi ingin langsing supaya bisa memakai lagi celana jin semasa lajang. Sayang, tahun-tahun berlalu dan celana itu masih mengendap di pojok lemari.
Sebelum tumpukan perkakas, perabot, atau pakaian Anda menggunung, sortirlah barang-barang Anda secara berkala. Banyak pilihan yang bisa Anda buat: jual ke toko barang bekas, hadiahkan kepada kerabat, sumbangkan ke panti sosial, atau berikan kepada pemulung. Selain membuat rumah menjadi lapang dan mudah dibersihkan, Anda juga berbuat baik kepada orang lain.
Sifat penyayang memang bagus, tetapi menyayangi barang secara berlebihan juga tidak baik, misalnya tetap menyimpan barang yang sudah rusak. Belajarlah melepaskan dan tidak terikat pada benda apa pun.
Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. – 1 Yohanes 2:15a
2. Pastikan Setiap Barang Punya Tempat

Setiap orang memiliki selera dan seni yang berbeda dalam menata rumah. Namun, secara umum, adanya tempat penyimpanan (storage) yang baik membuat barang lebih mudah dirapikan. Kita tidak boleh memarahi anak karena meletakkan mainan sembarangan, sementara kita tidak menyediakan boks penyimpanan untuk mainannya. Hal serupa juga berlaku pada barang-barang kecil, seperti kunci, pengecas (charger), payung, dan lain-lain.
Tempat-tempat penyimpanan barang sebaiknya diketahui dan disepakati oleh setiap anggota keluarga. Setelah digunakan, sebuah barang harus dikembalikan ke tempat semula. Dengan demikian, setiap ada anggota keluarga yang membutuhkannya, benda itu dapat dengan mudah ditemukan. Kalau tidak ada tempat untuk suatu benda, bisa jadi benda itu memang tidak berguna, atau mungkin Anda harus menyediakan tempat penyimpanan yang baru.
Menciptakan sistem administrasi dokumen keluarga juga merupakan ide bagus. Misalkan, kalau keluarga Anda beranggotakan lima orang, masing-masing anggota akan memiliki berkas sendiri yang berisi akta lahir, rapor, ijazah, sertifikat, serta dokumen pribadi masing-masing. Hal ini akan meminimalisir risiko hilang, tercecer, atau terselip. Selain itu, setiap anggota keluarga juga akan belajar bertanggung jawab terhadap dokumen pribadi mereka.
3. Tertib dan Tidak Menunda

Rumah atau kamar yang berantakan biasanya berawal dari satu tindakan kecil yang tidak tertib. Misalnya, meletakkan sepatu sembarangan. Gelas dan piring kotor ditaruh begitu saja di meja. Buku tidak disimpan ke tempatnya. Maka, untuk merapikannya, Anda cukup memulainya dengan satu tindakan yang tertib juga.
Awali di pagi hari. Sebelum keluar kamar, pastikan selimut Anda sudah dilipat. Setelah sarapan, sendok dan piring kotor langsung dicuci, jangan ditumpuk di tempat cuci piring. Belilah keranjang cucian dan setrikaan yang berukuran kecil. Begitu keranjang itu penuh, segera cuci dan setrika semua pakaian di dalamnya.
Lebih baik lagi kalau Anda menuliskan to-do list di buku agenda. Jangan enggan menuliskan hal kecil seperti “buang sampah ke tong sampah di depan rumah.” Kerap kali hal-hal kecil yang terlupakan justru dapat menimbulkan masalah besar. Membuat daftar dan melakukannya dengan segera akan meluputkan kita dari banyak masalah.
Tak lupa, periksa daftar tugas Anda di malam hari sebelum tidur. Betapa leganya ketika semuanya sudah dilakukan. Tirulah Tuhan Yesus yang mengerjakan tugas-Nya sampai rampung. Dia tidak mau bekerja setengah-setengah apalagi asal-asalan.
Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” – Yohanes 19:30a
Patut diperhatikan, bahwa segala hal yang dilakukan di luar batas kewajaran akan cenderung menjadi tidak baik. Dalam sejumlah kasus, hal ini mengindikasikan adanya kondisi psikologis, seperti OCD (Obsessive-Compulsive Disorder), hoarding disorder, depresi, dan lain-lain.
Contohnya, Anda tidak bisa berhenti menumpuk barang sampai kamar Anda tak lagi terlihat seperti kamar. Atau sebaliknya, Anda selalu sibuk memastikan semua benda berada di tempatnya, sampai-sampai Anda gelisah bukan main jika ada satu benda melenceng sedikit dari posisi asalnya. Kasus lain, kamar Anda biasanya rapi, tetapi belakangan jadi amat berantakan karena Anda sedang mengalami stres atau depresi.
Jika hal-hal di atas membuat hidup keseharian Anda terganggu, segeralah minta bantuan dari pihak yang dapat Anda percaya atau lebih ahli.
Rapi adalah kebiasaan baik yang menghindarkan kita dari kesulitan yang tidak perlu. Dengan menjadi orang yang rapi, orang lain juga bisa melihat Tuhan melalui diri kita. Jangan enggan untuk menyingkirkan barang yang tidak perlu, memastikan setiap barang diletakkan pada tempatnya, dan tidak menunda melakukannya. Tuhan Yesus memberkati!
–
Referensi:
Beth Penn, The Little Book of Tidying: Declutter Your Home and Your Life (London: Gaia Books, 2017), 19-20.
www.sehatq.com/artikel/kamar-berantakan-apa-hubungannya-dengan-kepribadianq
–
Gereja GKDI terdapat di 35 kota di Indonesia. Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), Diskusi Alkitab, membutuhkan bantuan konseling, ingin mengikuti ibadah minggu atau kegiatan gereja lainnya, silahkan mengisi form di bawah ini.
Jika Anda memiliki pertanyaan atau membutuhkan informasi lainnya, silahkan menghubungi kami melalui WhatsApp 0821 2285 8686 berikut.
Nikmati playlist lagu rohani kami di link berikut: http://bit.ly/gkdi-music
Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:
Website: https://gkdi.org
Facebook: https://www.facebook.com/GKDIOfficial/
Instagram: https://www.instagram.com/gkdiofficial/
Blog: https://gkdi.org/blog/
Youtube: https://bit.ly/yt-gkdi
Whatsapp: https://bit.ly/gkdi-wa
Video Musik:
Last modified: Apr 28
